Saturday, 18 May 2019

Belajar seni budaya dan sejarah di Kraton Jogja

Dok. instagram kratonjogja





Saat ke Jogja awal april lalu, saya dan suami menyempatkan mengunjungi kraton Yogyakarta. Beberapa kali ke Jogja belum pernah masuk ke kraton, hanya museum kereta kraton saja. Saat itu ada pameran kesusastraan jawa, yaitu pameran manuskrip yang ditulis oleh sastrawan maupun raja-raja sejak dulu dan menggunakan aksara jawa, untungnya ada deskripsi dalam bahasa indonesia, sehingga pengunjung dapat membacanya. Saya amati tiap manuskrip yang menceritakan macam-macam hal yang terjadi saat itu. Ada manuskrip yang diberi hiasan tepinya, ada yang polosan. Beberapa manuskrip yang memiliki hiasan di tepinya mengingatkan saya pada doodle pattern dan mandala. Sungguh rapi, artistik dan simetris. Pewarnaannya pun sangat menarik dan saya penasaran, mewarnanya menggunakan cat apa ya? karena bisa awet sampai ratusan tahun. Saya bertanya pada ibu-ibu yang menjaga pameran, apakah hiasan tersebut memang asli dari awal dibuatnya? Karena saya pikir bisa saja manuskrip tersebut direkonstruksi. Beliau bercerita bahwa semua asli sejak dibuat pertama kalinya dan benar-benar dijaga di museum. Hiasan tersebut menandakan candra sengkala atau kapan manuskrip itu dibuat, hari bulan tahun dan peristiwa yg terjadi saat itu tertuang dalam simbol. kreatif banget ya seniman dan sastrawan di zaman tersebut. Profesi yg memang sangat dihargai di kalangan bangsawan saat itu. Sayangnya saat memasuki ruang pameran saya tdk diperbolehkan membawa HP utk mengambil foto. Alhamdulillah sekarang sekarang sedang digarap program digitalisasi karya seni kraton sehingga memungkinkan masyarakat luas untuk mengetahui dan mengapresiasinya. Sungguh menyenangkan dapat melihat hasil karya sastra dan seni di masa lalu. 

#30HariMemetikHikmah #TantanganMenulisIPMalang #RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-3

Tuesday, 7 May 2019

Kita Petik Apa yang Kita Tanam

credit : https://www.sheknows.com/parenting/articles/1040569/old-people-names-we-love/
Setiap manusia akan mengalami fase : lahir, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan kemudian mati. Sebuah fase yang diibaratkan : urip nang ndunyo mung mampir ngombe. Hanya sebentar, sementara.


Menjadi tua berarti kembali menjadi anak-anak. Mereka kembali ke fitrah saat mereka memulai kehidupannya di dunia. Hidup bersama dengan anak-anak, orang dewasa dan sesepuh tentu tak terhindarkan dari gesekan dan konflik. Selalu ada yang berperan menjadi yang paling benar dan ada yang berperan sebagai yang selalu disalahkan dan mengalah. Hati yang lapang menjadi jembatan agar tak berlanjut menjadi sebuah kericuhan. Yang muda harus mengerti, harus memaklumi bahwa kelakuan sesepuh kembali lagi menjadi kelakuan anak bayi yang rewel. Kadang saya berpikir, mengapa kita harus selalu mengalah ya? Saat menjadi kakak yang lebih dewasa harus mengalah pada adik. Saat menjadi anggota keluarga yang muda, harus mengalah pada yang sepuh. 

Mungkin pikiran ini tak selalu harus terjawab sekarang. Mungkin nanti, saat usia ini telah senja, semua pertanyaan yang bekelindan dalam benak itu akan menemukan jawabannya. Setidaknya saya mengerti, bahwa ada banyak keutamaan yang diperoleh oleh anak yang memuliakan orang tuanya di masa senja, antara lain : dilancarkan rezekinya, dibukakan pintu surga, menghilangkan kesulitan yang dialami dll. Mencoba bersyukur bahwa orang tua saya kini sedang berusaha melaksanakan kewajiban birrul walidain, dan nantinya kami yang akan melanjutkan kewajiban tersebut, insya Allah. Ujian ini hanya sementara dan saya yakin nantinya kita akan memetik apa yang kita tanam. Menanam kebaikan maka akan memetik kebaikan pula. Aamiin. 

#30HariMemetikHikmah
#TantanganMenulisIPMalang
#RumbelMenulisIPMalang
#IbuProfesionalMalang
#HariKe-2

Man Shabara Zhafira

    

credit : https://deskgram.net/explore/tags/Manshobarozofiro

     Pertama kali saya mendengar kalimat tersebut adalah pada saat membaca buku lanjutan dari Negeri 5 menara, yakni Ranah 3 warna, yang berarti “Siapa yang bersabar akan beruntung.” Sabar adalah kata yang mudah diucapkan namun membutuhkan usaha yang ekstra untuk menjalaninya.

    Masa-masa awal pernikahan hingga berjalan sekitar 1.5 tahun ini, kami mendapatkan ujian yang tidak kami sangka. Sebuah penyakit yang tak pernah saya ketahui sebelumnya dan membuat saya merasa stress di awal karena saya mengira diri saya tidak normal. Saya merasa bersalah dan kerap kali menangis karena takut tidak bisa hamil. Alhamdulillah saya dianugerahi suami yang sabar dalam membimbing saya, dalam menerima segala kekurangan saya dan berfokus untuk sembuh. Setelah hampir 6 bulan pernikahan barulah saya bisa bertemu dengan dokter yang tepat dan teman-teman support grup yang membuat saya merasa bahwa saya ternyata tidak sendiri menghadapi ini. Kami memiliki permasalahan yang sama. Semenjak saat itu, saya selalu berusaha melakukan terapi mandiri seperti yang disarankan oleh dokter tersebut. Teman-teman di grup selalu saling memberi semangat satu sama lain.

     Doa-doa kami panjatkan setiap hari. Hari-hari berlalu, hingga kurang lebih 1,5 tahun akhirnya apa yang kami harapkan terjadi. Qodarullah wa Masyaa Allah saya bisa sembuh. Alhamdulillah, satu permasalahan terangkat. Saya dan suami masih harus berusaha dan berdoa terus untuk mendapatkan momongan. Apalagi di bulan Ramadan ini, saya yakin Allah akan mengabulkan doa kami di waktu terbaik. Berprasangka baik pada ketentuan Allah selalu membuat hati ini lebih tenang. Dengan sabar dan sholat, Allah akan menolong hamba-Nya. Seperti yang tertulis dalam Al-Quran surat Al-Baqarah : 153.

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Semoga di hari pertama puasa ini, kita bisa lebih bersabar dalam menghadapi ujian dan hawa nafsu kita.

#30HariMemetikHikmah
#TantanganmenulisIPmalang
#RumbelmenulisIPmalang
#IbuprofesionalMalang

#Harike-1

Sunday, 5 May 2019

Dilema Menjadi Working Mom

 Menjadi seorang wanita karir adalah salah satu hal yang saya inginkan setelah lulus kuliah S1. Hal ini dikarenakan saya ingin bisa membantu dan meringankan beban keluarga. Saya sangat bersyukur setelah wisuda, saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah saya. Selama 3,5 tahun saya bertahan di tempat kerja saya. Tentunya selama itu saya mengalami fase naik turun, bersemangat, jenuh, lelah, bahagia, silih berganti, dan maju mundur untuk mengajukan pengunduran diri. Saat jenuh, saya memilih untuk melakukan hobi saya seperti menulis, menggambar, dan menjadi relawan. Sungguh menyenangkan bisa tetap bekerja dan berkegiatan sosial karena selain dapat menambah pengalaman, semangat hidup, juga dapat menambah kawan dari berbagai macam provinsi dan berbagai daerah. Saat itu saya belum berkeluarga sehingga lebih fleksibel ke mana pun yang saya inginkan. Setelah 3,5 tahun bekerja saya pun memilih berhenti dan pindah bekerja ke kota kelahiran. Selama 3 bulan saya istirahat sejenak dari rutinitas bekerja di kantor. Selama itu saya menjadi asisten penerjemah freelancer dan banyak membaca buku sambil mengajukan lamaran menjadi pengajar bahasa di sebuah SMA dan sebuah bimbingan belajar.
6 bulan menjadi guru, pengajar bimbel, penerjemah sambil mempersiapkan pernikahan bukanlah hal yang mudah untuk berjalan beriringan. Waktu tidak dapat berkompromi dan saya bersyukur bisa melewatinya walaupun banyak tantangannya seperti lelah fisik, pikiran dan hati. Desember 2017 saya pun menikah dan memulai cerita baru. Untuk masalah pekerjaan, suami tidak pernah melarang saya untuk bekerja dan mengembangkan ketrampilan. Kami berdua sama-sama dibesarkan oleh ibu yang bekerja sehingga kami terbiasa mandiri sejak kecil. Namun demikian, beradaptasi dengan hal baru dan rutinitas baru tidaklah mudah bagi saya. Sebelumnya saat single saya dapat melakukan apa saja yang saya inginkan, pergi ke mana saja, sekarang saya harus membagi waktu antara mengurusi urusan rumah dan bekerja.  Awal pernikahan saya merasa bingung beradaptasi dan mengatur waktu saya untuk urusan domestik dan urusan pekerjaan. Apa iya hanya saya yang merasa seperti ini? Saya melihat orang-orang biasa saja meskipun mereka sudah menikah, tidak ada yang berubah dengan performa dalam pekerjaan. Ternyata itu hanyalah prasangkaan saya saja. Setelah saya saling bercerita dengan seorang kolega yang menikah di bulan yang sama dengan saya, saya merasa mendapatkan teman seperjuangan. Saya tidak sendiri rupanya.
Dikarenakan saya merasa jenuh dengan rutinitas harian, suatu hari saya memutuskan untuk bergabung dalam sebuah komunitas yang mewadahi ibu-ibu dan calon ibu untuk belajar banyak hal, kebetulan saat itu komunitas tersebut sedang membuka pendaftaran anggota baru. Kami belajar layaknya mahasiswi dan ada wisuda di akhir pembelajaran. Ada fasilitator yang akan memberikan materi untuk berdiskusi secara online dan diakhiri dengan tugas mingguan dan tantangan. Rata-rata mereka adalah ibu-ibu yang sudah memiliki anak balita. Ada yang sebagai working mom dari berbagai macam profesi, ada yang full time mom namun ada juga yang memutuskan resign dari pekerjaannya setelah memiliki anak dan memiliki kegiatan sampingan seperti bisnis online shop atau bisnis kuliner. Kadang saya merasa agak minder karena saya baru belajar menjadi istri. Namun setelah saling mengenal di grup WA dan menghadiri pertemuan, ternyata ada juga yang masih belum menikah. Lagi – lagi kami harus bersyukur karena mengenal komunitas ini lebih cepat sehingga dapat menjadi bekal kami untuk mengatur rumah tangga dan mendidik anak-anak kami ke depannya.  Sebuah positive support group untuk mewarnai hari-hari kami agar tidak jenuh dengan rutinitas dan beban kerja harian.
Hari demi hari terlewati. Hingga saat ini usia pernikahan kami 1 tahun 3 bulan. Saat ini kami belum dikaruniai anak. Terkadang hati ini sedih. Orang-orang di sekitar kami yang bukan keluarga dekat selalu bertanya kepada kami. Kolega di tempat kerja pun juga demikian. Awalnya saya cukup risih, sampai kadang malas untuk bertemu karena pertanyaan tentang kehamilan selalu menjadi pembahasan utama. Bahkan ada juga yang beranggapan karena saya terlalu kelelahan saat bekerja dan stress, sehingga saya belum bisa memiliki anak. Ah..pusing kepala Barbie! Lama-lama akhirnya saya pun terbiasa. Tidak semua komentar orang harus kita tanggapi dan tidak semua hal harus kita urusi. Bersyukur suami saya selalu menasihati agar lebih santai saat menyikapinya dan tak perlu dimasukkan ke hati. Usaha dan doa terus kami lakukan. Namun Tuhan punya kehendak lain. Mungkin kami masih diberi waktu untuk belajar memantaskan diri menjadi orang tua. Mungkin kami harus menyelesaikan dulu hal-hal yang menjadi beban kami agar nantinya kami tidak merasa bersalah dan akhirnya menyalahkan keadaan. Kami nikmati waktu kami berdua untuk lebih dekat dan mengenal lebih dalam satu sama lain. Saya sempat berpikir ke depannya, ketika kami telah memiliki buah hati nanti, apakah saya akan lanjut bekerja atau mengajukan pengunduran diri? Sebuah PR bagi saya untuk hari esok!
Soal tetap bekerja atau resign setelah memiliki anak pernah mengusik pikiran saya. Saya belajar banyak dari mengobservasi maupun saat sebagai tempat sampah curhatan teman-teman yang sudah memiliki anak, baik yang bekerja maupun sebagai ibu rumah tangga. Beberapa teman yang saat ini memilih menjadi ibu rumah tangga, memutuskan resign untuk mengurus sendiri anaknya, menyatakan bahwa mereka mengalami post power syndrome. Bingung dan jenuh dengan kegiatan sehari-hari bersama dengan bayi dan balita. Dulu ketika masih bekerja, mereka berinteraksi dengan banyak orang, namun kini mereka hanya berinteraksi dengan bayinya sehari-hari sambil menyelesaiakan pekerjaan rumah tangga. Mereka rindu masa-masa bekerja dan bersosialisasi dengan teman-teman dan kolega. Mereka menganggap ibu/istri yang bekerja lebih keren. Namun demikian mereka juga tidak tega jika harus menitipkan pada pihak lain. Mereka ingin mendidik anak dengan cara mereka sendiri. Di sisi lain, tibalah giliran saya mengamati dan bertanya kepada teman yang bekerja dan menitipkan anaknya yang masih bayi atau balita. Tak perlu jauh-jauh, mengingat apa yang dilakukan ibu saya dulu sebelum berangkat bekerja, saya merasakan hal yang tidak mudah. Harus menyiapkan keperluan bayi dan sarapan bagi keluarga sebelum berangkat ke kantor. Menitipkan anak pada kakek neneknya atau di day care. Pumping di sela-sela jam istirahat. Khawatir dengan kondisi anak, apalagi jika sakit. Menemani anak belajar, berbincang dengan keluarga, mengerjakan pekerjaan rumah tangga setelah pulang kantor.  Sepertinya melelahkan dan jika memang diharuskan memilih salah satu, mereka akan memilih bersama anak. Namun demikian ada tanggung jawab yang harus mereka lakukan di kantor. Sebuah tanggung jawab yang mengharuskan mereka untuk mengorbankan beberapa jam dalam sehari untuk bekerja. Entah nantinya saya akan memilih yang mana, semoga nantinya baik bagi kami.
Jujur saya kadang merasa galau. Kegalauan saya seringkali berakar dari perasaan membandingkan diri dengan teman-teman terutama teman-teman lama yang hanya bertemu di sosial media. Tentang pencapaian baik pencapaian pribadi maupun pencapaian pekerjaan. Saya sepakat dengan sebuah gagasan bahwa membanding-bandingkan adalah salah satu faktor penghambat kebahagiaan. Merasa bahwa hidup orang lain lebih baik, lebih enak, sedangkan kita tak tahu permasalahan apa yang sedang mereka hadapi di balik kebaikan yang ia dapatkan. Hidup ini, seperti pepatah jawa, “Urip iki sawang-sinawang”. Hidup ini berdasarkan perbedaan sudut pandang saja.  Mereka yang terlihat bahagia ataupun sukses sebenarnya juga memiliki permasalahan yang mereka hadapi namun tak pernah kita ketahui. Bahkan mungkin dari ketidak beruntungan yang menimpa kita, ada hikmah yang bisa kita ambil. Ada hal-hal positif yang dapat kita jadikan pelajaran untuk masa depan. Tuhan selalu punya rencana yang lebih indah daripada rencana kita kan?
Dalam lingkungan ibu-ibu pernahkah kita dengar perdebatan, mana yang lebih baik? Menjadi ibu yang bekerja? Atau menjadi ibu rumah tangga? Mungkin kalimat tersebut tidak selugas itu terlontar, namun tersirat dalam pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali ditanyakan? Misalnya, untuk ibu yang bekerja, akan mendapatkan pertanyaan “Kerja dari pagi sampai sore, apa nggak kasihan anaknya?” Sementara itu, untuk ibu rumah tangga akan mendapatkan pertanyaan, “Udah sarjana, kok sayang nggak kerja?” Mungkin terdengar sepele tetapi menyakitkan bagi ibu-ibu yang telah berani memutuskan dan mengambil sikap. Menerima keadaan mereka saja butuh waktu, apalagi harus beradaptasi, dan masih harus mendapat pertanyaan basa-basi namun menghakimi tersebut. Hal-hal semacam itu justru akan membuat seorang ibu merasa bersalah dengan peran dan keputusan yang sudah diambilnya. Tak sedikit yang berujung stres dan menjalani perannya dengan setengah – setengah. Seorang perempuan, ibu, baik yang memilih tetap bekerja maupun yang memilih menjadi ibu rumah tangga pastinya sudah memilih yang terbaik untuk keluarganya masing-masing. Dua-duanya menurut saya baik, tergantung pada prioritas dan keputusan keluarga masing-masing, dan kita harus saling menghargai pendapat dan keputusan itu.
Dengan peran saya sebagai seorang perempuan yang bekerja ini, tentunya kami dihadapkan dengan banyaknya tuntutan dari kantor atau institusi. Satu pekerjaan belum usai, sudah harus menyelesaikan pekerjaan lainnya. Beberapa pekerjaan dengan waktu sedikit kadang harus segera diselesaikan. Akhirnya banyak dari kami harus multitasking. Memang sepintas cara itu dapat efektif, namun ketika saya membaca dalam sebuah buku, multitasking ini berdampak tidak baik, terutama bagi kesehatan mental. Hal tersebut dapat mengurangi konsentrasi sehingga hasilnya tidak maksimal. Bahkan kita merasa sibuk sekali, namun pekerjaan kita tak kunjung selesai dan malah menjadi kurang produktif. Memang benar, serasa ditampar dengan pemahaman baru saya tentang multitasking. Akhirnya saya memutuskan untuk fokus menyelesaikan satu tugas dahulu baru kemudian yang lainnya. Padahal selama ini baik saat mengerjakan pekerjaan di luar dan di dalam rumah, kami sering mengerjakan beberapa aktivitas bersamaan agar lebih menghemat waktu.
Banyak hal yang saya lalui, banyak hal yang saya alami, kadang kala tidak sesuai dengan ekspektasi dan harapan saya. Di situlah rasa kecewa muncul dan menggerogoti semangat saya yang semula menyala, hingga berangsur-angsur padam. Bercerita, mengalirkan kisah dan rasa yang ada dalam benak dan hati membantu saya untuk lebih baik dalam menerima diri saya, menerima keadaan yang saat ini saya jalani, menerima peran yang diamanahkan pada saya dan suatu saat nanti akan dimintai pertanggung jawabannya. Apakah yang saya lakukan sudah baik? Sudah menjadi manfaat bagi sekitar?  Untuk suatu target atau harapan yang tak sesuai realita, jangan pernah merasa kalah. Lelah boleh namun harus bangkit lagi.  Mulai saat ini, saya selalu berusaha untuk fokus pada apa yang bisa saya ubah dan saya kendalikan. Untuk hal-hal di luar kemampuan saya, saya hanya bisa berserah pada Tuhan serta yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan kesulitan di luar kemampuan kita.

Oleh karena itulah saya sering mendengar, bahwa sebagai apapun, seorang ibu haruslah bahagia agar kebahagiaan dan kehangatan dalam keluarga dapat selalu terjaga. Bahagia dengan peran yang dijalani saat ini, bahagia dan bersyukur dengan pencapaian yang kita usahakan, dan bahagia menjadi dirinya sendiri. Jika menjadi working mom, kita merasa bahagia, maka lakukanlah. Jika menjadi ibu rumah tangga, kita merasa bahagia, maka jalanilah. Jika merasa lelah, istirahatlah. Jika merasa jenuh, mungkin jalan-jalan bersama keluarga atau teman-teman menjadi pilihan yang menarik. Semoga kita bisa menjadi ibu yang bahagia, bijak serta sehat lahir dan batin.
:) 

Saturday, 8 December 2018

Berawal dari hobi, menjadi sebuah terapi diri

         
          Aku sangat suka membaca. Sejak kecil orang tuaku senang membelikan majalah anak-anak atau mengajakku ke toko buku untuk memilih buku yang aku sukai. Membaca membuatku semakin lihai berimajinasi. Imajinasi itu kutuangkan dalam bentuk skenario lisan ala anak-anak, yakni bermain peran menggunakan boneka kertas yang sangat hits saat aku SD, itu lho permainan orang-orangan yang ada bajunya bermacam-macam kemudian digabungkan dengan rumah-rumahan plastik. Aku dan sahabatku bisa berjam-jam jika sudah bermain. 
      Seiring berjalannya waktu, bacaan kita juga mengikuti perkembangan. Saat SD, aku membaca majalah anak-anak, novel anak, dan komik. Saat SMP dan SMA aku mulai menyukai novel teenlit dan novel motivasi. Oleh karena itulah saat SMA aku memilih jurusan bahasa dan dilanjutkan ke jurusan sastra Prancis di Universitas. Membaca memberiku kesempatan untuk menjelajah ke tempat-tempat yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Mengenalkanku dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia serta memperoleh pengalaman dan juga pekerjaan yang tidak terduga. 
       Membaca memberiku ruang bebas berkarya dan menemaniku saat hari-hariku terasa sepi. Beranjak dewasa, teman-teman mulai hidup dengan keluarganya masing-masing, dan aku yang pada saat itu belum berkeluarga, menghabiskan banyak waktuku untuk membeli buku, membacanya, dan tentu saja mengoleksinya. Dari pengalaman membaca itulah, rasa percaya diriku untuk menulis tumbuh. Sejak SMP aku suka menulis diary bahkan sampai saat bekerja. Setelah muncul banyak sosial media dan blog, aku mulai mempublikasikannya. Dan aku sangat senang karena teman-teman memberiku support untuk mengembangkan tulisanku. Beberapa kali mengikuti lomba cerpen maupun novel, namun sayang aku tak pernah beruntung. Namun jalan menulis tak hanya sampai di situ. Aku mulai bergabung dalam komunitas menulis dan mengikuti sayembara dan tulisan-tulisan yang terpilih dibukukan dalam sebuah antologi. Alhamdulillah saat ini aku telah berkolaborasi dalam 7 buah antologi, baik cerpen, puisi maupun kisah inspiratif. Namun demikian, aku masih memiliki harapan dan impian, yakni menulis sebuah buku, solo writing. Sudah beberapa draft novel bersarang di folder laptopku. Draft yang belum matang karena tak pernah kuselesaikan. Entah mengapa rasanya sulit sekali untuk konsisten. Padahal sudah seringkali aku mengikuti diskusi dan juga saat bedah buku para penulis terkenal. Namun sayangnya semangat itu hanya berkobar di awal. Entah mungkin karena kesibukanku mengajar yang cukup menyita banyak waktu, sehingga waktu untuk menulis dan membaca dengan tenang pun habis. Entah mengapa saat ini aku tak bisa fokus membaca dan menghabiskan buku-buku seperti dulu. Kadang aku merasa tidak tenang saat membaca karena pekerjaanku belumlah tuntas dan agak stres.  Namun akhirnya aku menyadari, bahwa membaca dan menulis juga dapat menjadi sebuah terapi untuk stres. Terapi untuk menenangkan diri dan keluar sejenak dari pikiran yang melelahkan. Oleh karena itulah, tulisan ini aku buat untuk menenangkan hati dan pikiranku yang saat ini sedang kacau dan semoga setelah itu dapat kembali fokus untuk kembali menyelesaikan pekerjaan. Mungkin teman-teman ada yang mengalami hal yang sama, segera hentikan pekerjaan yang membuat stres, lakukan hobi yang kalian suka misalnya menulis. Tuliskan apa saja yang saat itu membuatmu lelah dan jenuh. Tuliskan hingga hilang semua sesak di dada. Semoga ketika rasa stres telah reda, kalian dapat kembali melanjutkan pekerjaan dengan pikiran lebih jernih dan fokus. Selamat kalian telah menyalurkan emosi dan kejenuhan melalui kegiatan dan hobi yang positif dan tentu saja produktif.  :)
Terima kasih.
Anna Rakhmawati (batch 6)

Thursday, 16 February 2017

Merangkai Cerita Inspirasi di SDN Sundul Bersama Kelas Insspirasi Magetan 4

Ikut serta dalam kegiatan kelas inspirasi bagi saya merupakan suatu hal yang membuat ketagihan. Selalu ada pengalaman baru dan berharga saat bertemu dengan orang-orang baru. Demikian juga dengan KI Magetan 4 yang merupakan KI ke-4 yang saya ikuti. Bergabung bersama dengan sahabat-sahabat rombel 7 yang kami beri julukan rombel “Sundul Gan!”, kami mendapat kesempatan untuk menginspirasi adik-adik di SDN Sundul 1 dan 2 Kecamatan Parang.
Minggu, 5 Februari 2017, saya tiba di Magetan setelah 5 jam naik bis dari Surabaya. Saya bertemu dengan Kak Yuliana, Kak Happy dan Kak Sari relawan fasilitator. Selain itu juga ada Bu Pryla, Om Wid dan Kak Arya dari relawan pengajar. Kami bertemu di pelataran  masjid agung Magetan kemudian bersama menuju tempat menginap di gedung PPI. Malamnya, kami bertemu dengan Kak Pria, Kak Nurma, Kak Eko dari fasilitator dan Kak Hery videografer. Sementara relawan lainnya akan datang besok pagi. Setelah selesai mempersiapkan keperluan untuk hari inspirasi, kami jalan-jalan sejenak, menikmati suasana malam hari di Magetan. Sesampainya kami di telaga sarangan, angin kencang pegunungan menyambut kami. Dinginnya luar biasa. Tak berlama-lama, kami segera masuk ke dalam mobil lagi dan melanjutkan perjalanan ke cemoro sewu. Di gerbang masuk pendakian Gunung Lawu ini udara dinginnya semakin menggigit kulit. Apalagi saat itu jam menunjukkan pukul setengah 12 malam. Perjalanan malam itu kami tutup dengan mampir ke warung kopi yang masih buka sambil menikmati minuman hangat, sambil ngobrol santai, menciptakan kenangan untuk cerita di hari yang akan datang.
            Senin, 6 Februari 2017. Hari inspirasi.
upacara bendera
doc kak Alvi
Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap menuju SDN Sundul 1 dan 2. Saya terkesima dengan suasana dan pemandangan pagi dalam perjalanan menuju ke SD. Pemandangan hijau membentang dihiasi kabut yang perlahan-lahan menghilang karena sinar matahari pagi dari ufuk timur memberikan sensasi pagi syahdu yang tak kami temukan di perkotaan. Ingin rasanya berhenti sejenak menikmati lukisan alam itu, namun kami juga ingin segera sampai di sekolah dan bertemu adik-adik SDN Sundul 1 dan 2. Jadi, SD Sundul 1 dan 2 ini letaknya berseberangan. Masing-masing memiliki kepala sekolah, guru, dan siswa, namun untuk hari inspirasi, dua sekolah ini pun digabung. Jumlah siswa keseluruhannya adalah 85 siswa. 
Bergabung bersama kami pagi itu, relawan pengajar lainnya, yaitu Kak Roni dan Kak Lilik, relawan fasil Kak Septian dan relawan dokumentator, Kak Alvi. Sebelum pembukaan, Bapak dan Ibu Guru menyambut kami dengan hangat, sehangat sinar matahari pagi itu. Kami awali kegiatan hari itu dengan upacara bendera. Bapak kepala sekolah, Pak Trimo, dan Bapak pengawas menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan Kelas Inspirasi dan mengajak anak-anak untuk bersemangat dalam mengikuti kegiatan hari inspirasi. Satu hal yang melekat dalam ingatan saya adalah ketika Pak Trimo mengatakan bahwa hari ini anak-anak akan dibawa ke dunia lain. Dunia profesi, dunia cita-cita dan dunia harapan tentang masa depan. Ada berbagai macam profesi dalam rombel kami, yakni desainer dan pengusaha (Om Wid), dosen bahasa inggris (Miss Pryla), pegawai bank (kak Lilik), desainer game animasi (kak Roni), Badan penanggulangan bencana (Kak Aria) dan saya sebagai tutor bahasa prancis. Setelah perkenalan dan supaya suasana semakin meriah, kami melakukan senam gemufamire yang dipimpin oleh kak Pria dan juga ice breaking “penyerapan energi matahari” yang dipandu oleh kak Aria. Adik-adik terlihat sangat senang dan bersemangat, tak ketinggalan pula bapak ibu guru serta para relawan.
bersama murid kelas 2
doc : kak nurma
Di mana negara Indonesia?
doc: kak alvi
Pada sesi pertama, saya mendapat kesempatan masuk di kelas 2. Untuk hari inspirasi kali ini saya ditemani dua kartun pahlawan dari Prancis, yakni Asterix dan Obelix dalam bentuk wayang. Kali ini saya mengajak adik-adik belajar di luar ruang kelas agar mereka merasakan suasana belajar yang berbeda, diibaratkan mereka sedang rekreasi ke prancis. Sebelum meninggalkan kelas, saya ajak mereka berkenalan dengan negara yang masih asing bagi mereka itu dengan miniatur menara eiffel, warna bendera, dan peta. Tentu saja tak lupa saya tanyakan juga kepada mereka tentang landmark Indonesia (monas), bendera dan bentuk negara Indonesia pada peta dunia untuk menambah kecintaan pada Indonesia. Mereka mendapatkan tiket berupa gambar menara eiffel yang nantinya harus mereka warnai. Berbaris rapi saat keluar, mereka menyanyi lagu kereta api dengan bersemangat. Di halaman sekolah yang teduh, kami duduk melingkar dan saya menceritakan beberapa tempat wisata pada anak-anak kemudian mereka melakukan aktivitas mewarnai. Murid-murid kelas 2 ini sangat aktif dan enerjik. Mereka sangat bersemangat dan membuat saya juga ikut bersemangat. Untuk sesi kedua, hampir sama dengan sesi pertama, hanya berbeda pada aktivitasnya karena saya masuk di kelas 5. Mereka berpasangan mempraktekkan cara berkomunikasi, menyapa (bonjour) dan mengucapkan terima kasih (merci) dalam bahasa prancis. Murid-murid kelas 5 lebih tertib dan mereka sangat antusias dan mudah diarahkan. Mereka juga cukup kritis dan memiliki semangat belajar yang bagus.  Semoga kelak mereka dapat mewujudkan cita-citanya. Aamiin.
bersama murid kelas 5
doc : kak alvi
berlatih menyapa "bonjour"
doc : pribadi
Sebelum penutupan, kami semua berkumpul di halaman sekolah untuk menyaksikan simulasi penanggulangan bencana kebakaran dari kak Aria. Adik-adik dan bapak ibu guru diberi kesempatan untuk mencoba memadamkan kebakaran dengan kain basah dan APAR. Mereka sangat senang karena pengetahuan seperti ini sangat penting. Untuk penutupan, kami menempelkan bintang cita-cita pada banner KI yang bertemakan luar angkasa dilanjutkan dengan menerbangkan pesawat kertas dengan harapan adik-adik dapat bercita-cita tinggi dan berusaha untuk menggapainya. Ditutup dengan doa dan foto bersama, kami bersalam-salaman dengan adik-adik sambil membagikan bingkisan alat tulis.
simulasi tanggap bencana kebakaran
doc : pribadi
Kami bersyukur acara hari inspirasi ini berjalan dengan lancar. Hal ini tentu saja berkat dukungan serta kerjasama antara pihak sekolah dan para relawan kelas inspirasi Magetan 4. Mereka yang rela menyisihkan waktunya, jauh-jauh dari berbagai kota untuk berbagi inspirasi bersama. Saya terharu dengan apresiasi pihak sekolah, yang tidak hanya menerima kami dengan hangat, namun juga menyediakan berbagai macam konsumsi serta buah tangan. Suatu rezeki yang harus disyukuri. Tak hanya itu saja, kami juga terinspirasi dengan dedikasi bapak ibu guru yang telah mengabdi selama puluhan tahun untuk mendidik anak-anak bangsa. Mengikuti kegiatan kelas inspirasi memang tak dibayar dengan materi, namun kami memperoleh lebih dari materi. Mempererat tali silaturahmi, mendapat saudara baru, mendapat semangat dan inspirasi baru, mendapat pengalaman baru, serta mengenal daerah baru. Acara KI Magetan hari itu ditutup dengan refleksi tak jauh dari lokasi sekolah. Kami bertemu dengan para relawan lainnya dari berbagai macam kota dan profesi. Kami berharap bisa bertemu lagi di kesempatan lainnya.
Teringat sebuah kutipan dari Maya Angelou, seorang penulis, “When you learn, teach. When you get, give. Saat kita belajar, ajarkanlah. Saat kita mendapat sesuatu, berbagilah.” Karena ilmu yang diamalkan dan dibagikan tak akan pernah habis. Dan semoga menjadi ilmu dan amal yang bermanfaat kelak. Aamiin. Terima kasih rombel 7, SDN Sundul 1 dan 2. Terima kasih Kelas Inspirasi Magetan 4.
Witing nginspirasi jalaran saka kelas inspirasi.
12022017



 
bersama relawan, guru dan murid SDN Sundul
doc : kak Alvi

para relawan rombel Sundulgan! :D
doc : miss pryla








Friday, 2 December 2016

Derap Simfoni Inspirasi di SDN Curahtakir 6 - Kelas Inspirasi Jember 4

Selamat Datang di Sekolah
Doc : pribadi.  

Departure – Arrival
Kelas Inspirasi Jember 4 di akhir bulan November 2016 ini adalah salah satu agenda yang saya nanti-nantikan. Setelah minggu yang padat merayap, maka kegiatan positif di akhir pekan yang kabarnya juga akan diadakan rekreasi ke pantai teluk Love ini  membuat saya sangat bersemangat. Maklum sudah lama tidak ke pantai. Berbekal sebuah tas ransel, jaket, roti untuk makan malam dan rasa antusiasme untuk bertemu dengan orang-orang baru yang sehari-hari hanya saling berkomunikasi di grup whatsaap, saya pun tetap berangkat walau hujan masih mengguyur langit Jombang malam itu.  Setelah 1,5 jam perjalanan bis dari Jombang – Surabaya, saya menunggu kawan-kawan baru yang akan berangkat bersama ke Jember di ruang tunggu terminal Bungurasih. Tepat pukul 12 malam, kami ber-9 naik bis tujuan Jember dan akan turun di terminal Tawang Alun. Ada Kak Ajeng, Kak Forman, Kak Zaqi, Kak Hanif, Kak Not, Kak Ain, Kak Ica, dan Kak Satriyo. Tak lama setelah bis berjalan, saya sudah tertidur. Tentu saja saat itu kami tidak bisa tidur nyenyak dan seringkali terbangun. Sesampainya di terminal Tawangalun, jam sudah menunjukkan pukul 4.30, bertepatan pula dengan pesan dari Kak Gyas selaku panitia yang menanyakan keberadaan kami. Saya salut dengan para panitia KIJ 4, mereka memastikan kami, para relawan dari luar kota Jember mendapatkan akomodasi yang baik. Terima kasih ya Kak Bastomy dan Kak Gyas sudah menjadi KI-Jek pagi-pagi, padahal mereka sendiri juga harus segera mempersiapkan briefing pagi di SMAN 1 Jember.   

Briefing

Saya dan Kak Ajeng transit di rumah Kak Talita, fotografer rombel kami, rombel 6. Saya bertemu dengan Kak Farida yang sudah datang tadi malam. Kami dijamu dengan sangat baik oleh keluarga Kak Talita. Setelah bersih diri, kami menghadiri briefing di aula SMAN 1 Jember yang tak jauh dari sini. Ternyata para relawan telah banyak yang berdatangan dari berbagai macam profesi dan kota. Saat itu ada Kak Anggi dan Kak Nadzir yang menjadi MC. Iya..Kak Nadzir yang koordinator rombel kami, yang selalu ngasih semangat dan selamat pagi di grup, yang  selalu ngajak VM dan menawari anggota grup untuk jadi moderator tapi nggak ada yang angkat suara akhirnya dia sendiri yang memoderatori hihihi.
doc : panitia. Relawan dan panitia KIJ 4
Acara dibuka oleh sambutan dari koordinator KIJ, Kak Dini Optimasi. Semakin terasa istimewa, ketika hadir pula Bapak dan Ibu Wakil Bupati Jember serta kepala sekolah untuk membuka acara briefing ini. Beliau sangat mendukung adanya Kelas Inspirasi Jember ini.  Dukungan tersebut adalah sebuah bukti bahwa pihak pemerintahan  dapat bersinergi dengan komunitas relawan. Setelah acara formal selesai, briefing semi-formal dipandu oleh Kak Bastomy alias Bapak Kije. Mulai dari apa itu kelas inspirasi, 7 sikap dasar, sekolah zona inspirasi, dan berbagai serba-serbi tentang Kelas Inspirasi. Hal ini sangat penting untuk diketahui para relawan, terutama para relawan yang baru bergabung dengan kelas inspirasi agar dapat memiliki pandangan seperti apa tentang Kelas Inspirasi.  Tak hanya itu saja, para relawan juga dibekali dengan materi persiapan Hari Inspirasi. Untuk relawan pengajar mendapatkan pengarahan dari Kak Diah yang merupakan alumni Pengajar muda Indonesia Mengajar tentang tips dan trik untuk mengajar anak-anak SD dengan menyenangkan. Ini juga sangat penting, terutama untuk relawan pengajar yang sehari-hari tidak berinteraksi dengan anak-anak di dalam kelas. Walaupun kami telah mendapatkan modul tetapi akan lebih berkesan dan lebih jelas jika dijabarkan oleh yang berpengalaman.  Sedangkan untuk relawan dokumentator mendapatkan pengarahan dari Kak Gyas yang juga telah berpengalaman di bidang dokumentasi. HAP! Setelah briefing utama selesai, kami melanjutkan dengan briefing per rombel. Akhirnya kami bertemu dengan beberapa anggota rombel 6. Ada Kak Elia, fasilitator kami yang sangat bersemangat, Pak Isma, Kak Asih, Kak Not, Kak Farida, Kak Nadzir, dan Bu Evin.  Sebenarnya ada 16 orang di dalam rombel kami, namun hanya beberapa yang bisa mengikuti briefing. Setelah berdiskusi singkat, kami sepakat untuk berangkat setelah sholat jumat.  Semangat ya kakak-kakak hebat! (nge-rhyme euy!)  
Separuh personil rombel 6. Doc : Kak Not


Menuju Lokasi
Sekolah yang menjadi zona inspirasi rombel kami adalah SDN Curahtakir 6 di Desa Tempurejo, Jember Selatan. Konon kabarnya, sekolah kami mendapat rangking ke-6 dari 16 sekolah yang diurutkan dari sekolah yang memiliki akses tersulit. Untuk sekolah dengan akses dan medan paling ekstrim adalah rombel 1, yakni SDN Andongrejo 4 di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Nah balik lagi ke rombel kami karena searah, rombel kami berangkat bersama rombel 5 yang mendapat SDN Curahtakir 2. Setelah acara ngetem di depan indomaret menunggu personil lengkap, akhirnya saya bersama kak Talita, Kak Elia, Kak Nastiti, Kak Asih, Kak Not, Kak Ega, Kak Nadzir, Kak Farida dan Pak Isma berangkat beriring-iringan naik motor ke lokasi. Sempat deg-degan juga karena saya nggak pakai helm sementara hujan tak kunjung reda. Selama perjalanan saya sempat memperhatikan beberapa nama daerah yang sama dengan daerah di Malang, seperti Sumbersari dan Kebonsari.  Kami berangkat dari kota, kemudian melewati sawah dan ladang, kemudian perkebunan milik PTPN yang tampak seperti hutan dengan kanopi yang membuat sepanjang jalan terasa gelap. Akhirnya rombel kami dan rombel 5 harus berpisah di SDN Curah takir 2. Sementara itu, kami masih harus kembali meneruskan perjalanan ke jalanan menanjak yang mulai berbatu dan tanah yang licin karena hujan.  Di jalan ini saya dan Kak Talita nyaris oleng di jalanan menurun. Saya yang teringat pengalaman saat touring dan terjatuh dari motor di medan seperti ini segera turun dari motor dan memilih berjalan kaki. Saya harus ekstra hati-hati karena saya memakai sandal karet yang ternyata sangat licin jika dipakai di medan seperti ini. Akhirnya saya bertukar posisi dengan Kak Nastiti. Saya melanjutkan perjalanan dengan Kak Elia. Fasilitator rombel kami ini meskipun kecil tapi tangguh dan sudah terbiasa dengan medan seperti ini. Setelah melewati jalanan makadam, sampailah kami di tepi sawah yang berlatar gunung berkabut. Kak Elia sampai menghentikan motornya agar saya bisa mengambil foto karena sebelumnya saya sempat heboh melihat pemandangan di depan mata itu. 

doc : pribadi . pemandangan berkabut  yang menyambut kami
















Setelah 2 jam perjalanan, kami sampai di SDN Curahtakir 6. Sampai di sini, sinyal HP saya sudah tak terdeteksi lagi. Kami sempat menjumpai adik-adik yang sedang bermain di tepi sawah. Mereka tampak senang dan bersemangat ketika saya beri tahu bahwa besok kami akan bertemu di sekolah. Saya yakin mereka sedang bertanya-tanya siapa kami dan dari mana, namun masih malu-malu. Kami disambut oleh Bapak Kepala Sekolah, Pak Bonari Untung, yang tinggal di rumah dinas di samping sekolah. Kami pun mempersiapkan perlengkapan untuk besok seperti memasang banner dan menata ruang untuk istirahat kami di perpustakaan yang ternyata sudah disediakan kasur. Sementara untuk relawan putra menginap di musola sekolah. Kami juga mempersiapkan atribut headpiece yang kami buat dari kertas koran dilengkapi dengan daun kertas sejumlah siswa, 215 orang. Cukup banyak juga ya siswa di sini.
 Selesai sholat maghrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan jamuan makan malam yang disediakan oleh keluarga Pak Untung. Kami sampai tak percaya, ini masakan ala katering kondangan. Ada sate, gule, makaroni tempura, dan daging empal. Alhamdulillah, nikmat sekali makan bersama di teras dengan pemandangan gunung dan hutan di ujung sana. Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi sambutan dan keramahan keluarga Pak Untung. Saya juga bersyukur dipertemukan dengan keluarga rombel 6 yang baru hari ini bertemu namun segera akrab satu sama lain bagai saudara. Setelah perlengkapan untuk atribut selesai, kami pun berlatih senam pinguin untuk besok pagi. Untungnya Pak Isma membawa laptop dan LCD projector membuat kami semangat berlatih. Tak lama datang satu personil kami, Kak Adi Nera, fotografer paparazi rombel kami. Selesai senam, akhirnya kami bisa beristirahat. Di antara KI sebelumnya, malam itu saya tidur lebih cepat dan lebih nyenyak. Mungkin sudah mulai terbiasa dengan jam kritis H-1 Hari Inspirasi.




Doc. pribadi : Hari Inspirasi 26 November 2016



Selamat pagi! Akhirnya Hari Inspirasi pun tiba! Jeng..jeng..jeng...jeng..
Pagi-pagi sekali, murid-murid SDN Curahtakir 6 sudah berdatangan dan mulai piket, menyapu kelas dan halaman sekolah. Mulai murid kelas 1 – 6 bergotong royong membersihkan sekolah. Sementara itu di halaman sekolah, gerimis mulai turun rintik-rintik. Kami khawatir bagaimana jika hujan? Apakah senam penguin yang telah kami persiapkan semalam tidak jadi ditampilkan? Selesainya sarapan di rumah Pak Untung, kami kembali ke halaman dan Alhamdulillah gerimis reda dan kami membuka pagi itu dengan perkenalan dan senam penguin yang diikuti oleh adik-adik dengan antusias. Ohya pagi ini, personil kami lengkap, ditambah dengan Pak Adi yang datang jam 3 pagi dan Bu Evin yang datang pagi ini. Rombel 6 siap beraksi menginspirasi adik-adik kelas 1-6 SDN Curahtakir 6. Yeyyy!!!
Doc. Kak Adi_nera_  

Doc. Kak Adi_nera_ 
Perkenalan : Di rombel kami ada 16 personil namun yang bisa hadir hanya 13 orang. Kak Elia dan Kak Nadzir sebagai fasilitator kami, dan Kak Felia (yang hari ini tidak bisa hadir), dan 1 orang lagi yang saya nggak tahu orangnya yang mana hihi. Kemudian untuk relawan pengajar ada, saya, Kak Nita yang akrab disapa Kak Not (staf pajak), Kak Asih (perawat), Kak Nastiti (arsitek), Kak Evin (terapis anak berkebutuhan khusus), Pak Isma (penyuluh PLKB), Pak Adi (programmer), dan sebenarnya ada satu lagi namun tidak hadir. Untuk tim dokumentator ada 4 orang, Kak Talita, Kak farida, Kak Adi Nera, dan Kak Ega sebagai videografer.  Syukur Alhamdulillah cuaca kembali cerah. Akhirnya para penguin eh para relawan dan adik-adik dapat beraksi untuk senam penguin.



Doc. Kak Adi_nera_ Relawan dan bapak-ibu guru


Setelah itu kami masuk ke kelas yang telah dipersiapkan. Kali ini saya kebagian kelas 4, 6 dan back up kelas 2.  Murid di sekolah ini memang cukup banyak, 1 kelas saja ada yang 37. Seperti sebelumnya, untuk kelas 4 dan 6, saya selalu mengajak adik-adik untuk yel-yel dan bernyanyi terlebih dahulu, kemudian lanjut jalan-jalan keliling dunia via peta hehehe. Ketika saya mengeluarkan miniature menara Eiffel, topi baret, dan bendera, mereka serempak bilang : Paris!! Paris!! Ikonik sekali memang ya. Dari situ saya ajak mereka mengenal salah satu Negara di benua Eropa tersebut sambil tak lupa menunjukkan gambar tempat-tempat wisata, pegunungan salju dan juga orang-orangnya serta bahasa prancis umum untuk Selamat pagi (Bonjour) dan terima kasih (merci). Tak lupa saya juga menjelaskan tentang ikon (landmark) dan budaya Indonesia.  Dan karena stock sticker saya masih banyak, saya bagi-bagikan kepada mereka. Senang sekali melihat mereka antusias seperti itu. Saya juga memperkenalkan pada mereka bahwa dari belajar bahasa, ada banyak profesi yang dapat mereka lakukan selain menjadi pengajar, seperti halnya penulis buku, penerjemah, dan pemandu wisata. Harapan saya semoga mereka tergerak untuk bercita-cita lebih luas dan lebih tinggi. Demikian juga saat masuk di kelas 2. Saya tidak bisa mengajarkan tentang peta pada mereka, saya ajak mereka bernyanyi dan menari poki-poki, lalu berkelompok untuk menggambar cita-cita mereka. Di kelas ini saya bertransformasi menjadi pelukis hihihi. Masih dengan baret merah yang selalu identik dengan pelukis, saya menggambar seorang pelukis di papan tulis. “Bu Anna, gambar dokter gimana? Gambar tentara gimana?” Wow! Akhirnya saya ajak lagi mereka menggambar orang dengan lagu lingkaran kecil-lingkaran kecil-lingkaran besar dst kemudian diberi pernak-pernik, seperti stetoskop, pistol dll. Sekilas, aktivitas menggambar memang tampak mudah, namun saat harus mengajari cara menggambar, di situlah keimanan dan kesabaran Anda diuji..huhuhu. Luar biasa saat saya harus lari ke sana-ke sini, ada yang minta pensil warna, ada yang minta selotip, ada yang tanya “Bu seperti ini? Bu saya warna ya?” Iya Nak..Iya…terserah kreasi kalian ya. Dalam hati saya berujar, “Terpujilah wahai Engkau Bapak Ibu Guru, terutama guru kelas 1 dan 2”


Doc. Kak Adi_nera_  Kelas 6
Doc. Kak Adi_nera_  kelas 4
Doc.pribadi  Karya kelas 2



Di saat istirahat, anak-anak tak membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Mereka mendatangi kami sambil bertanya dan berdiskusi macam-macam. “Kalian setelah ini mau melanjutkan ke SMP mana?” tanya saya kepada siswa kelas 6 di sela-sela perbincangan kami. “Mondok, Bu.” “Ke MTS, bu”. Alhamdulillah... “Ibu doakan lancar ya ujiannya, dan semoga bisa masuk di sekolah yang diinginkan.”  Tak lama setelah itu, ada seorang anak bernama Mona, gadis cilik ini adalah anak berkebutuhan khusus. Kami tidak saling mengenal, tiba-tiba dia memeluk saya. Beruntung tadi Bu Evin telah memperkenalkan di awal, jadi saya tidak terlalu kaget. Ini pengalaman pertama saya berinteraksi langsung dengan ABK. Tatapan matanya jujur. Ia paham ketika saya ajak bicara, namun ia tak bisa mengungkapkan seperti anak-anak lainnya. Di situ perasaan saya mulai teraduk-aduk, terharu, apalagi saat saya ajak bergabung dengan kerumunan teman-temannya yang sedang menyanyi Indonesia Raya, Padamu Negeri, dan Guruku Tersayang. “Mona ikut nyanyi ya, sayang.” Ia mengangguk dan masuk di kerumunan tersebut. Kemudian tersenyum ke arah saya. Ya Allah..rasanya mata saya sudah berkaca-kaca menahan haru. Beberapa bulan lalu, saya pernah punya keinginan untuk berinteraksi dengan anak-anak ABK, bahkan saya sempat bertanya kepada orang-orang yang berkecimpung dengan dunia anak tentang anak ABK ini. Saya ingin menyelami dan memahami dunia mereka yang kadang tak terpahami oleh orang-orang di sekitarnya. Saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang di sini. Saya juga belajar banyak dari kakak-kakak relawan di sini.
doc : kak Talita  . Suasana istirahat




Sayang sekali hari inspirasi ini hanya sehari saja. Tibalah kami harus berpisah dengan adik-adik. Setelah menempel bunga cita-cita di pohon cita-cita, kami mendapat kejutan. Tim marching band, colour guard dan tim penari keluar mempersembahkan penampilan terbaik mereka. Saya kira mereka tidak akan tampil karena hari sudah mulai siang. Meski panas terik dan membuat peluh kami bercucuran, semangat mereka untuk menampilkan yang terbaik memberikan kebahagiaan tersendiri. Akan sangat biasa melihat penampilan marching band di SD perkotaan, namun mengingat kembali medan yang kami lalui kemarin untuk sampai ke sini, ini merupakan hal yang luar biasa. Kami para pengajar merasa terharu dan bahagia, bahkan kami bersama-sama ikut menari bersama mereka. Ceria bersama sebelum kebersamaan kami harus berakhir siang ini. Sekitar 3 lagu mereka persembahkan untuk penutupan yang manis ini. Dan lagu terakhir adalah lagu india favorit saya : tumhihoooo~ :D Salut dengan pelatihnya yang telah sabar dan telaten membimbing adik-adik hebat ini. Semoga suatu hari nanti mereka dapat menjadi musisi yang handal.


doc : Kak Adi_nera



doc : Kak Adi_nera . Karya Siswa

doc : Kak Adi_nera. Ceria bersama



doc : Kak Adi_nera. Menari bersama




Doc : pribadi. Marching band

Setelah bersalam-salaman dan berfoto bersama, Pak Untung menawari kami makan siang. Sangat syahdu makan siang bersama-sama, dibelai angin sepoi-sepoi kaki gunung, melihat pemandangan hijau di puncak gunung yang mulai dihiasi kabut tipis (sayangnya saya lupa menanyakan itu gunung apa). Kesederhanaan, sambutan yang hangat, keramahan, dan kebersamaan ini membuat saya akan merindukan moment satu hari berbagi, selamanya nggak bisa move on ini. Setelah ishoma, kami pun segera meluncur ke pendopo Balai desa Pondokrejo, berkumpul bersama kawan-kawan kami dari rombel lain untuk melaksanakan agenda terakhir : Refleksi. Kami berpisah dengan Pak Untung di Balai desa karena beliau mengantarkan kami yang kekurangan armada.
Sesampainya di lokasi, sudah ada beberapa relawan yang datang. Tampak kawan-kawan dari rombel 1 yang pakaiannya penuh lumpur dan sangat kelelahan menghadapi medan yang fenomenal itu. Saat refleksi masing-masing rombel harus menceritakan sedikit pengalaman dan pesan kesannya serta menampilkan yel-yel hebohnya. Hari sudah sore dan mendung, situasi sudah kacau dan para relawan sudah mulai tidak fokus karena mereka harus segera kembali pulang jika tidak ingin terjebak hujan deras. Akhirnya setelah penutupan, kami saling berpamitan, dan berharap semoga bisa bertemu kembali. Ada sedikit kehilangan meski hanya 2 hari bersama mereka, terutama rombel 6. Kami memang baru saja kenal, namun entah mengapa seperti sudah lama saja. Kekompakan dan kebersamaan itu, melewati kesulitan dan membuat cerita bersama dan menorehkan kenangan. Mungkin karena persamaan tujuan dan bisa dibilang kami berada dalam frekuensi yang sama dalam lingkaran positif bernama Kelas Inspirasi. Kami datang membawa sebuah misi, pulang membawa ratusan inspirasi, menambah relasi dan tentu saja tak lupa kami ucapkan beribu terima kasih untuk keluarga besar Kelas Inspirasi Jember 4. Terima kasih saudara-saudara rombel 6. Terima kasih SDN Curahtakir 6.  Dan langit senja sore itu menjadi lukisan penutup hari inspirasi kami. Semoga senyuman kembali terlukis di wajahmu ketika mengingat hari ini. Semoga kita dipertemukan lagi, suatu hari nanti.
Salam Inspirasi


Jombang, awal Desember 02122016

Doc.Pribadi . Senja Penutupan KIJ 4